Temanku Sasa

Hal yang biasa yang tak mungkin biasa aku lakukan kalau tidak saat berada di kampusku adalah berjalan kaki. Jalan kakinya tidak sekedar dari satu kelas ke kelas yang lain, atau dari gedung satu ke gedung sebelah namun, bisa dari satu gedung ke gedung lain yang letaknya di antara beberapa gedung. Opps, maaf kata-katanya jadi sedikit ribet. Bagi yang tidak ngampus di universitas yang sama denganku maka aku yakin banyak sekali yang bingung dengan penjelasanku di awal. Heheh.

Nah, suatu hari sehabis pulang ujian aku harus mentransfer uang ke bank. Di era sekarang, orang-orang akan mentransfer uang lewat atm agar lebih praktis. Tapi aku memiliki kasus dimana aku harus mentransfer uang ke bank yang tidak sama dengan rekekning yang aku milki. Selain itu, karena masih kuliah belum punya penghasilan (*kalah telak dengan mahasiswa wirausahwan dan wirausahawati) aku punya rekening yang notabene gak bisa transfer sama sekali, hanya bisa narik uang. Rekening ini tidak banyak bunga dan tidak banyak potongannya sehingga, cukup bagus di gunakan oleh mahasiswa sepertiku. (ceileee)

Kembali ke topik transfer. Karena harus mentransfer uang melaui bank aku berjalan dari gedung tempat ujianku berlangsung (Yang telah berangsung) ke pusat bank yang ada di kampusku. Sendiri saja, karena waktu itu teman ku yang biasanya pulang bareng denganku belum selesai ujian dan aku terkejar waktu (saat itu satu setengah jam sebelum bank tutup). Dari gedung tempat aku ujian, aku harus berjalan melewati 3 gedung fakultas dan satu gedung pusat bahasa. Kalau di hitung kilometernya sekitar….. (gak tau juga, gak pernah di perhatiin). Hehehe. Nah letak bank yang aku tuju, berada di jalur kepulangan bus kampus. Jadi aku cukup bahagia juga, karena bus kampus biasanya tidak lewat di gedung tempatku ujian. (Busnya Gratiisss). Akan tetapi, setelah urusanku di bank selesai aku tidak melihat bus kampus lewat di rute pulangnya. Jadi aku memutuskan untuk berjalan agak jauh ke arah halte yang terletak di gedung fakultas di bawah pusat bank. Dekat? Gak juga, jauh? Gak juga. Tapi dinikmati saja, karena nanti juga bisa naik bus grastis (dari pada bayar angkot 3000 ribu, ehh..).

Untuk yang sudah baca sampai paragraf ketiga barangkali ada yang bingung. Apa coba korelasi antara judul ‘temanku sasa’ dengan deskripsi ku mengenai jauhnya perjalan untuk pulang atau cerita tentang transfer uang yang aku lakukan?. Tenang, di paragraf ini bakalan di jelaskan (Tenang, be calm) wkwkwk. Nah saat akan menunggu bus di halte, aku melihat temanku mengendarai motor lewat di depan halte. Dengan melambaikan tangan ke kamera arah temanku tadi – gayung bersambut, maksud tercapai- temanku tadi langsung menoleh dan memberhentikan kendaraanya. Namanya sasa. (Nah pasti sudah ada yang ngeh atau mulai ngerti dengan maksud judul di atas) J. Rasanya saat itu seneeeeng banget, sasa tidak hanya berhenti tapi dengan ikhlasnya membolehkan aku nebeng di motornya. Syukrooon Sasa *(Read-Terima kasih sasa). Sasa bahkan bertanya, “Jauh sekali sampai ke halte sini?”. Aku hanya bisa tersenyum sumringah dan menjelaskan deskripsi 3 paragraf tadi ke sasa di atas motor. Seneng banget rasanya karena jarang sekali ada yang mau nebengi kita loh, apalagi ada yang merhatiin orang di pingir jalan (Halte), di antar pulang juga. Domo Arigatouu. Sasa yang baik, semoga tetap baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s