Catatan kuliah farmasi komunitas dan klinis

Pada sesi kali ini saya akan memposting tentang catatan kuliah saya. ya.. namanya juga anaka kuliah, pengin juga rasanya memposting hal-hal yang berkaitan dengan kuliah.. ceileee.. 😀

Untuk postingan pertama saya mau berbagi (buat teman2 yang baca blog saya) tentang “Catatan kuliah farmasi komunitas dan klinis” ayo cekidot…

Bab 1: Filosofi Farmasi Klinis

Seorang farmasis adalah orang yang terlatih dan ahli mengenai obat dan produk obat. Sehingga dapat diuraikan bahwa farmasis secara profesional berperan dalam:

  1. Mendorong peresepan obat yang rasional
  2. Mengajarkan kepada pasien untuk menggunakan obat dengan tepat
  3. Mengidentifikasi dan mencegah permsalahan terkait obat

Di rumah sakit praktisi farmasi klinik bertanggung jawab terhadap:

  1. Memastikan pasien mendapatkan dosis yang optimum untuk pengobatan pada kondisi khusus dengan adanya regimen dosis dan sediaan yang rasional, dengan waktu pemakaian yang tepat,
  2. Memastikan masalah efek samping dan interaksi obat telah diidentifikasi dan di pecahkan, dimana efek yang di ketahu dapat dicegah,
  3. Memastikan bahwa pasien dan ‘penulis resep’ mengerti dengan mudah terhadapt informasi yang di sampaikan dan mendukung dengan memahami mengenai tujuan dari efektif obat yang maksimal selagi meminimalkan rekasi yang tidak di inginkan terhadap obat.

Menurut Dr. Donald brodie, 1965 . Tujuan utama dari pelayanan farmasi haruslah memastikan obat digunakan dengan AMAN oleh masyarakat.

Sejarah Penting dalam perkembangan farmasi klinis

1944 – Farmasi klinis pertama kali dijadkan sebagai sarana pendidikan

1946 – AACP dan ACPE menolak adanya farmasi klinis

1969 – Istilah ‘Farmasi Klinis’ digunakan untuk menunjukkan praktek farmasi yang berorientasi pada pasien

Desentralisasi pelayanan farmasi klinis : Konsep satelit farmasi

  • Membawa farmasi kepada lingkungan asuhan pasien
  • Profesional tenaga medis dapat di pandang
  • Farmasis mendapatkan akses yang mudah untuk membantu pasien dalam masalah terkait obat (DRP)

Dengan adanya konsep desntralisai pahramsi akan membuat tenaga media, apabila di perlukan, maka dapat untuk beridiskusi terkait penggunaan obat dengan seorang farmasis pada saat akan membuat keputusan terkait obat.

Selain itu juga, desentralisai farmasi juga dapat menyediakan pengalaman yang bagus pada mahasiswa untuk menerapkan teori ilmu sain dan pengetahuan profesional di dalam kelas untuk melihat aspek praktis dalam kondisi terapi pada penggunaan obat.

Farmasi Klinis (Pada Masa Awal)

  1. Merupakan sebuah konsep
  2. Menekankan pada penggunaan obat yang aman dan tepat
  3. Berorientasi pada pasien bukan produk
  4. Bertanggung jawab pada terapi obat di semua lini kesehatan yang berkaitan dengan obat.

Pelayanan Farmasi meliputi: (Terdapat Dalam Permenkes No. 58 Tahun 2014)

  1. Pengkajian dan Pelayanan Resep
  2. Penelusuran riwayat penggunaan Obat
  3. Rekonsiliasi Obat
  4. Pelayanan Informasi Obat (PIO)
  5. Konseling
  6. Visite
  7. Pemantauan Terapi Obat (PTO)
  8. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
  9. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)
  10. Dispensing sediaan steril
  11. Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD)

————

Secara umum catatan hasil translate ini masih berupa pengantar kuliah, dan maaf sekali sodar-sodara jika membaca catatan saya ini agak membuat bingung, but at least please understand about that, ehehhe. Untuk lebih lanjut akan ada catatan lagi terkait kuliah farmasi komunitas dan klinis ini. Tapi…. tunggu postingan berikutnya ya..ehhehe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s