Ikan Padang

 

Pada suatu hari saya dengan langkah gontai akibat kelaparan sehabis pulang kuliah. Bayangkan sodara-sodara saya ini.. -_- *loh kok malah jadi seperti orasi – oke kembali ke topik. Saya kuliah di kota dengan suhu panas dekat pantai. Mau tahu dimana? Yappss di Padang. (padahal ada banyak kota pesisir pantai di Indonesia, langsung ketebak saja wkwkk.

Dengan perut lapar saya menghampiri sebuah warung makan yang terletak di dekat rumah saya. Saya celingak celinguk , lirik kanan kiri sambil memanggil si bapak yang biasanya menjual makan di warung makan yang saya tuju.

Saya : “Pak.. sambal campur sudah habis ya pak?”

Bapak : “Ndeh..iyo mah, lah sore hari. Alhamdulillah habis ludes, hahah”

Saya : (si bapak bisa saja-sambil tertawa-)” hmmmmm..kalau begitu ikan se lah pak”

Bapak : “ikan yang ma?”

Si bapak bertanya karena di etalase kaca tempat samba biasa di letakkan terletak 2 jenis ikan

Saya : “Ikan padang satu pak..”

Bapak : “ikan di padang ado banyak nak, ado ikan —-sambil menyebutkan satu persatu nama ikan, banyak lagi—“

Saya : “Ikan padang pak.. yang itu pak –sembari menunjuk salah satu ikan-“

Bapak : “ooo.. itu ikan lawik –read ikan laut- namonyo..hahahha ado2 se anak maa”

Saya: “ha..iyo ikan lawik pak..” sambil cengengesan

Bapak : “Dima kampuang?” sambil mengambil ikan yang saya minta si bapak malah kepo tentang saya..eh kok malah mikir gitu hehee.

Saya : “Dari Tanah Datar pak..”

Bapak : “ hoo, anak darat tu nan obeh dek e ikan lawik ikan padang nyo (tentu yang tahu ikan padang tu ikan laut kalau sama orang yang tinggal jauh dari daerah pantai-terjemahannya begitulah), kalau anak pasisia yo ikan lawik katonyo ma..hahhha”

Saya rasanya pengin menggambarkan kalau daerah saya penuh pegunungan dan lembah yang tidak mungkin bagi saya terbiasa dengan daerah laut. Ditambah lagi pedangang seafood (ciee ikan lautnya di inggris inggriskan ) yang biasa ada di pasar bilang, “Bali lah bali lah, ikan padang langsunag dari padang tadi pagi..oii balil lah” begitu redaksinya. Hahahah…meskipun tidak semua pedangang juga begitu.

Saya : “Mokasih pak” sambil menerima bungkusan ikan padang *eh ikan laut yang saya beli tadi.

 

Temanku Sasa

Hal yang biasa yang tak mungkin biasa aku lakukan kalau tidak saat berada di kampusku adalah berjalan kaki. Jalan kakinya tidak sekedar dari satu kelas ke kelas yang lain, atau dari gedung satu ke gedung sebelah namun, bisa dari satu gedung ke gedung lain yang letaknya di antara beberapa gedung. Opps, maaf kata-katanya jadi sedikit ribet. Bagi yang tidak ngampus di universitas yang sama denganku maka aku yakin banyak sekali yang bingung dengan penjelasanku di awal. Heheh.

Nah, suatu hari sehabis pulang ujian aku harus mentransfer uang ke bank. Di era sekarang, orang-orang akan mentransfer uang lewat atm agar lebih praktis. Tapi aku memiliki kasus dimana aku harus mentransfer uang ke bank yang tidak sama dengan rekekning yang aku milki. Selain itu, karena masih kuliah belum punya penghasilan (*kalah telak dengan mahasiswa wirausahwan dan wirausahawati) aku punya rekening yang notabene gak bisa transfer sama sekali, hanya bisa narik uang. Rekening ini tidak banyak bunga dan tidak banyak potongannya sehingga, cukup bagus di gunakan oleh mahasiswa sepertiku. (ceileee)

Kembali ke topik transfer. Karena harus mentransfer uang melaui bank aku berjalan dari gedung tempat ujianku berlangsung (Yang telah berangsung) ke pusat bank yang ada di kampusku. Sendiri saja, karena waktu itu teman ku yang biasanya pulang bareng denganku belum selesai ujian dan aku terkejar waktu (saat itu satu setengah jam sebelum bank tutup). Dari gedung tempat aku ujian, aku harus berjalan melewati 3 gedung fakultas dan satu gedung pusat bahasa. Kalau di hitung kilometernya sekitar….. (gak tau juga, gak pernah di perhatiin). Hehehe. Nah letak bank yang aku tuju, berada di jalur kepulangan bus kampus. Jadi aku cukup bahagia juga, karena bus kampus biasanya tidak lewat di gedung tempatku ujian. (Busnya Gratiisss). Akan tetapi, setelah urusanku di bank selesai aku tidak melihat bus kampus lewat di rute pulangnya. Jadi aku memutuskan untuk berjalan agak jauh ke arah halte yang terletak di gedung fakultas di bawah pusat bank. Dekat? Gak juga, jauh? Gak juga. Tapi dinikmati saja, karena nanti juga bisa naik bus grastis (dari pada bayar angkot 3000 ribu, ehh..).

Untuk yang sudah baca sampai paragraf ketiga barangkali ada yang bingung. Apa coba korelasi antara judul ‘temanku sasa’ dengan deskripsi ku mengenai jauhnya perjalan untuk pulang atau cerita tentang transfer uang yang aku lakukan?. Tenang, di paragraf ini bakalan di jelaskan (Tenang, be calm) wkwkwk. Nah saat akan menunggu bus di halte, aku melihat temanku mengendarai motor lewat di depan halte. Dengan melambaikan tangan ke kamera arah temanku tadi – gayung bersambut, maksud tercapai- temanku tadi langsung menoleh dan memberhentikan kendaraanya. Namanya sasa. (Nah pasti sudah ada yang ngeh atau mulai ngerti dengan maksud judul di atas) J. Rasanya saat itu seneeeeng banget, sasa tidak hanya berhenti tapi dengan ikhlasnya membolehkan aku nebeng di motornya. Syukrooon Sasa *(Read-Terima kasih sasa). Sasa bahkan bertanya, “Jauh sekali sampai ke halte sini?”. Aku hanya bisa tersenyum sumringah dan menjelaskan deskripsi 3 paragraf tadi ke sasa di atas motor. Seneng banget rasanya karena jarang sekali ada yang mau nebengi kita loh, apalagi ada yang merhatiin orang di pingir jalan (Halte), di antar pulang juga. Domo Arigatouu. Sasa yang baik, semoga tetap baik.

Catatan kuliah farmasi komunitas dan klinis

Pada sesi kali ini saya akan memposting tentang catatan kuliah saya. ya.. namanya juga anaka kuliah, pengin juga rasanya memposting hal-hal yang berkaitan dengan kuliah.. ceileee.. 😀

Untuk postingan pertama saya mau berbagi (buat teman2 yang baca blog saya) tentang “Catatan kuliah farmasi komunitas dan klinis” ayo cekidot…

Bab 1: Filosofi Farmasi Klinis

Seorang farmasis adalah orang yang terlatih dan ahli mengenai obat dan produk obat. Sehingga dapat diuraikan bahwa farmasis secara profesional berperan dalam:

  1. Mendorong peresepan obat yang rasional
  2. Mengajarkan kepada pasien untuk menggunakan obat dengan tepat
  3. Mengidentifikasi dan mencegah permsalahan terkait obat

Di rumah sakit praktisi farmasi klinik bertanggung jawab terhadap:

  1. Memastikan pasien mendapatkan dosis yang optimum untuk pengobatan pada kondisi khusus dengan adanya regimen dosis dan sediaan yang rasional, dengan waktu pemakaian yang tepat,
  2. Memastikan masalah efek samping dan interaksi obat telah diidentifikasi dan di pecahkan, dimana efek yang di ketahu dapat dicegah,
  3. Memastikan bahwa pasien dan ‘penulis resep’ mengerti dengan mudah terhadapt informasi yang di sampaikan dan mendukung dengan memahami mengenai tujuan dari efektif obat yang maksimal selagi meminimalkan rekasi yang tidak di inginkan terhadap obat.

Menurut Dr. Donald brodie, 1965 . Tujuan utama dari pelayanan farmasi haruslah memastikan obat digunakan dengan AMAN oleh masyarakat.

Sejarah Penting dalam perkembangan farmasi klinis

1944 – Farmasi klinis pertama kali dijadkan sebagai sarana pendidikan

1946 – AACP dan ACPE menolak adanya farmasi klinis

1969 – Istilah ‘Farmasi Klinis’ digunakan untuk menunjukkan praktek farmasi yang berorientasi pada pasien

Desentralisasi pelayanan farmasi klinis : Konsep satelit farmasi

  • Membawa farmasi kepada lingkungan asuhan pasien
  • Profesional tenaga medis dapat di pandang
  • Farmasis mendapatkan akses yang mudah untuk membantu pasien dalam masalah terkait obat (DRP)

Dengan adanya konsep desntralisai pahramsi akan membuat tenaga media, apabila di perlukan, maka dapat untuk beridiskusi terkait penggunaan obat dengan seorang farmasis pada saat akan membuat keputusan terkait obat.

Selain itu juga, desentralisai farmasi juga dapat menyediakan pengalaman yang bagus pada mahasiswa untuk menerapkan teori ilmu sain dan pengetahuan profesional di dalam kelas untuk melihat aspek praktis dalam kondisi terapi pada penggunaan obat.

Farmasi Klinis (Pada Masa Awal)

  1. Merupakan sebuah konsep
  2. Menekankan pada penggunaan obat yang aman dan tepat
  3. Berorientasi pada pasien bukan produk
  4. Bertanggung jawab pada terapi obat di semua lini kesehatan yang berkaitan dengan obat.

Pelayanan Farmasi meliputi: (Terdapat Dalam Permenkes No. 58 Tahun 2014)

  1. Pengkajian dan Pelayanan Resep
  2. Penelusuran riwayat penggunaan Obat
  3. Rekonsiliasi Obat
  4. Pelayanan Informasi Obat (PIO)
  5. Konseling
  6. Visite
  7. Pemantauan Terapi Obat (PTO)
  8. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
  9. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)
  10. Dispensing sediaan steril
  11. Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD)

————

Secara umum catatan hasil translate ini masih berupa pengantar kuliah, dan maaf sekali sodar-sodara jika membaca catatan saya ini agak membuat bingung, but at least please understand about that, ehehhe. Untuk lebih lanjut akan ada catatan lagi terkait kuliah farmasi komunitas dan klinis ini. Tapi…. tunggu postingan berikutnya ya..ehhehe